Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Juli 2011

Sejarah Para Khalifah: Ibrahim I, Sultan yang Mencintai Rakyat

Senin, 27 Juni 2011 06:00 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Ibrahim I adalah Sultan Turki Utsmani dari 1640 hingga 1648. Dia menjadi sultan setelah saudaranya, Murad IV, tidak meninggalkan seorang pun anak laki-laki sebagai penerus tahta. Saat Sultan Murad IV meninggal, tidak seorang pun keturunan Ali Utsmani yang masih hidup, kecuali Ibrahim yang dipenjara selama pemerintahannya.

Tatkala saudaranya meninggal, para pembesar kerajaan segera mendatanginya ke penjara untuk memberitahukan kematian saudaranya, Sultan Murad IV. Tatkala mereka menemuinya, ia menyangka bahwa mereka datang untuk membunuhnya. Dia ketakutan dan tidak percaya dengan berita yang mereka bawa. Oleh sebab itu, ia tidak membukakan pintu penjara. Akhirnya para pembesar membongkar paksa pintu penjara dan menyatakan ucapan selamat kepadanya.

Ibrahim I masih mengira bahwa mereka sedang berusaha memperdayainya untuk mengorek isi hatinya. Maka dia pun menolak tawaran untuk berkuasa dan mengatakan lebih senang hidup sendirian di balik jeruji daripada menerima kerajaan dunia. Tatkala mereka tidak berdaya meyakinkannya, ibunya mendatanginya dengan membawa jenazah saudaranya.

Saat itulah dia duduk di tahta kesultanan dan memerintahkan agar jenazah saudaranya dikuburkan dengan prosesi yang megah. Di depan jenazah Sultan Murad IV, ada tiga kuda yang paling baik yang pernah ditungganginya saat berperang di Baghdad. Setelah itu, Ibrahim berangkat ke Masjid Jami' Abu Ayyub Al-Anshari dan di sanalah ia disandangi pedang, dan yang hadir membaiatnya sebagai khalifah.

Ketika naik ke singgasana dia berujar, "Ya Allah, perbaiki keadaan rakyat hamba selama pemerintahan hamba. Dan jadikanlah kami saling mencintai satu sama lain."

Kondisi dalam negeri relatif stabil setelah Sultan Murad IV, saudaranya, melakukan sejumlah perbaikan ke dalam, terutama terhadap militer. Maka Sultan Ibrahim memfokuskan diri pada perbaikan ekonomi dan menegakkan undang-undang perpajakan dengan asas-asas yang baru.

Pada masa pemerintahannya, Perdana Menteri Musthafa Pasya berhasil menghentikan campur tangan perempuan dalam masalah-masalah kesultanan dan berhasil menumpas para pembesar kerajaan yang melakukan perusakan.

Ada yang mengatakan, Khalifah Ibrahim I menderita penyakit mental, bahkan gila. Mungkin karena menderita kelabilan mental (neurasthenia), dan juga tertekan setelah kematian saudaranya.




Redaktur: cr01
Sumber: Sejarah Para Khalifah karya Hepi Andi Bastoni

Sejarah Para Khalifah: Sultan Musthafa III, Perang Panjang Melawan Rusia

Selasa, 05 Juli 2011 10:44 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Musthafa III lahir pada 28 Januari 1717 dan meninggal 221 Januari 1774. Ia adalah seorang penguasa yang bersemangat dan cerdik. Musthafa III mencoba memodernkan pasukan dan mesin pemerintahannya untuk membawa negerinya sederajat dengan Eropa.

Ia melindungi layanan jenderal asing untuk mengawali reformasi infanteri dan artileri militer. Sultan Musthafa III juga memerintahkan pendirian Akademi Matematika, Navigasi dan Sains.

Sayangnya, kekuasaan Utsmani telah merosot begitu dalam. Sadar akan lemahnya militer negaranya, Musthafa III menghindari perang dan tak sanggup mencegah aneksasi Krimea oleh Katarina II dari Rusia. Namun aksi ini, bersama dengan agresi Rusia lebih lanjut di Polandia, memaksa Musthafa III mendeklarasikan perang melawan Rusia sebelum kematiannya.

Musthafa III menjadi khalifah saat berumur 24 tahun, dan sangat paham tentang seluk-beluk pemerintahan. Dia mengangkat Menteri Qawjah Raghib sebagai perdana menteri karena dianggap memiliki wawasan yang luas dan pengalaman yang banyak dalam urusan negara. Raghib mampu memadamkan pemberontakan kalangan Arab Syam yang mengganggu kafilah-kafilah haji.

Dalam pandangan Sultan Musthafa III, bahaya yang sedang mengancam kesultanan adalah dengan munculnya kekuasaan Rusia baru. Tampaknya dia mengetahui rencana yang disusun Rusia yang berusaha mencabik-cabik pemerintahan Utsmani. Sebuah rencana yang diarsiteki Petrus Agung dalam sebuah wasiatnya yang terkenal.

Oleh sebab itu, Musthafa III mempersiapkan diri untuk memerangi Rusia. Ia mempersiapkan pasukan Utsmani sebaik-baiknya agar mampu menghadapi pasukan Eropa.

Sultan juga berusaha untuk memperluas wilayah dagang, baik di darat maupun di laut dan merencanakan untuk membuka wilayah Teluk sehingga bisa menyambung dengan sungai Dajlah dan Astana. Dengan demikian, sunga-sungai dapat digunakan secara alami untuk memudahkan pengangkutan hasil bumi dari berbagai wilayah ke pusat pemerintahan, serta dapat memperlancar arus perdagangan.

Kesultanan Utsmani terlibat perang dengan Rusia karena pelanggaran yang dilakukan oleh Qawzaq di wilayah perbatasan. Raja Krimea berhasil menang dalam perang itu dan berhasil pula menghancurkan sejumlah desa kecil pada 1182 H/1768 M. Sedangkan Rusia berhasil menundukkan dua wilayah; Valachie dan Baghdan.

Rusia juga berusaha mendorong orang-orang Kristen Ortodoks untuk melakukan revolusi melawan pemerintahan Utsmani. Kaum Kristen Ortodoks yang berada di pulau Moroh memberontak, namun berhasil digagalkan.

Peperangan dengan Rusia terus berlanjut dalam jangka waktu yang panjang. Perang dengan Rusia ini dimulai sejak 1768 dan berakhir pada 1774. Dalam peperangan ini, pemerintahan Utsmani telah kehilangan wilayah kekuasannya yang demikian luas dan strategis. Saat itu, telah kelihatan dengan jelas kelemahan dan keterbelakangan pada kesultanan Utsmani.

Sultan Musthafa III jatuh sakit karena tenggelam dalam kesedihan saat berperang dengan Rusia. Dia wafat pada saat usia berusia 57 tahun. Musthafa III meninggal pada 1187 H/1774 M. Kedudukannya digantikan oleh saudaranya, Abdul Hamid I.



Redaktur: cr01
Sumber: Sejarah Para Khalifah karya Hepi Andi Bastoni

Rabu, 20 April 2011

KH. M. SYAFI'I HADZAMI

KH.M. Syafi’i Hadzami
Bersamaan dengan perkembangan Islam di Jakarta dan semakin banyaknya kelompok ulama, lahirlah seorang ulama Betawi yang menjadi generasi kedua dalam jaringan intelektual Islam Betawi pada abad ke -20, yakni KH. M. Syafi’I Hadzami. Ia dilahirkan pada tanggal 31 Januari 1931 M bertepatan dengan 12 Ramadlan 1349 H. Orang tuanya bernama Muhammad Saleh Raidi dan Ibu Mini. Sejak awal kecil KH. M. Syafi’I Hadzami berada dibawah bimbingan datuknya, Husein, di Batutulis XIII, Pecenongan. Disinilah KH. M. Syafi’I Hadzami mendapatkan bimbingan intelektual pertama dengan belajar Al Qur'an hingga fasih beserta tajwidnya. Selain itu, ia juga belajar ilmu sharaf dan nahwu. Pada usia 9 tahun, KH. M. Syafi’I Hadzami sudah khatam Al Qur'an. Dibawah asuhan datuknya yang disiplin dan tegas.

Sejak kecil, KH. M. Syafi’I Hadzami senang melihat orang-orang pintar, terutama para kyai. Ia ingin menyamai mereka. Kerana itu, ketika kecil, ia senang berpakaian seperti ulama. Namun, ia tidak tahu dari mana datangnya keinginan itu. Padahal dalam tradisi keluarga, ia tidak melihat ada kecenderungan untuk menjadi kyai. Barangkali didikan datuknya yang selalu menyuruhnya untuk mengaji dan sering mengajak ke tempat-tempat para ulama itulah yang membuat Syafi’i kecil ingin menyamai mereka. Keinginan itulah yang menjadikan Syafi’i Hadzami gigih dalam menuntut ilmu.




KH.Syafi’i Hadzami mendapat julukan Muallim Jakarta, sejak muda beliau gemar sekali menuntut ilmu dan tak pernah merasa puas terhadap ilmu yang beliau miliki, maka tak heran bila beliau menguasai beberapa fan ilmu seperti Ilmu Fiqih, ilmu Falaq, ilmu Hadist , Ilmu Tauhid dan berbagai disiplin ilmu-ilmu lainnya. Salah satu Guru beliau yang sangat beliau Hormati adalah Syech Muhammad Yasin bin Isa Al Fadani seorang Ulama terkemuka dari Mekkah yang bergelar Musnidud Dunya, dan guru- guru beliau lainnya adalahKyai Husain, K.H. Abdul Fattah, Ustaz Sholihin,Habib Ali Bungur, Habib Ali alhabsyi kwitang K.H. Ya’qub Sa`idi, .

Penggambarannya untuk memburu ilmu-ilimu agama hanya terbatas di wilayah Jakarta. Ini berbeda dengan kebanyakan perjalanan intelektual ulama-ulama terkenal lainnya yang menuntut ilmu ke beberapa tempat. Syafi’i Hadzami tidak pernah menempuh pendidikan agama di pondok pesantren atau madrasah apalagi belajar di Timur Tengah. Pengajian kitab di masjid yang hingga sekarang ini masih hidup di kalangan masyarakat Betawi telah menjadi tradisi intelektual yang paling berharga bagi Syafi’i Hadzami. Dapatlah dikatakan bahwa selain tempat ibadah, masjid juga berfugsi sebagai tempat mengajarkan dan menyebarkan Islam. Tradisi mengajar agama di masjid sebenarnya bukanlah hal yang baru. Kebiasaan ini dapat ditemukan di hampir seluruh dunia Islam, khususnya di dua masjid utama di tanah suci, Makkah dan Madinah, yang dianggap oleh umumnya muslim Asia Tenggara abad ke-17 sebagai pusat kosmik dan sumber ilmu.

Namun kemantapan hatinya, ketekunan, dan kekerasan usahanya, yang didukung dengan kesungguhan beribadah, ketinggian akhlaq, dan kederdasan otaknya, telah mengantarkan Syafi’i Hadzami meraih keberhasilan yang patut dibanggakan, setara dengan ketinggian ulama lainnya. Inilah kelebihan Syafi’i Hadzami dalam perjalanan intelektualnya yang berbeda dengan kebanyakan ulama lainnya dalam jaringan intelektual abad ke-16 – 21.

Dalam buku biografinya yang ditulis oleh Ali Yahya (1999) disebutkan Syafi’i Hadzami tidak membatasi diri pada ilmu tertentu. Ia menyukai berbagai bidang keilmuwan. Di masa-masa awal, setelah mempelajari al Qur’an beserta tajwidnya dengan baik, maka ilmu yang palin ditekuninya adalah tauhid. Fiqh, dan ilma alat (nahwu, sharaf, dan balaghah). Berbagai kitab matan ia hafalkan, terutama yang berbentuk nadzam. Khusus untuk ilmu-ilmu alat, ia memberikan perhatian yang khusus. Penguasaan yang mendalam tentang ilmu alat menjadi prioritas utamanya di masa-masa awal. Hal ini didasari oleh keyakinan bahwa pengembangan selanjutnya dalam penguasaan berbagai cabang ilmu keislaman akan sangat tergantung kepada penguasaan ilmu alat. Setelah memiliki penguasaan yang mendalam tentang ilmu-ilmu alat barulah ia menekuni ilmu-ilmu lain, seperti ilmu ushul fiqh beserta qawaidnya, mantiq, tafsir, ulumul hadis, tasawuf, falak,’arudh dan lain sebagainya.

Jaringan Pengajian

Jaringan intelektual yang didapat Syafi’i Hadzami dari guru-gurunya terbatas pada jaringan ulama Betawi, yang dikenal sebagai masyarakat religius dan mengandalkan masjid sebagai pusat intelektual. Namun demikian, Syafi’i Hadzami memiliki jaringan intelektual ke atas (guru-gurunya), seperti KH. Mahmud Romli, (1866 M), KH Ahmad Marzuki (1876 M), yang berpuncak pada dua ulama Haramain ternama abad ke-17; Ahmad al-Qusyasyi dan Abdul Aziz al Zamzami.

Beberapa ulama yang dikunjungi Syafi’i Hadzami memberikan kemantapan ilmunya sekaligus memperdalam pengetahuannya dalam keilmuwan Islam. Syafi’i Hadzami sering diajak datuknya untuk mengaji dan membaca dzikir di tempat Kyai Abdul Fatah (1884-1947 M) yang dikenal sebagai pembawa Tarekat Idrisiyah ke Indonesia setelah mendapat ijazah dari Ahmad al-Syarif al-Sanusi di Makkah. Dari gurunya ini, ia mendapat doa khusus. Waktu itu, ia ikut berdzikir bersama kelompok Tarekat Idrisiyah yang dipimpin oleh Kyai Abdul Fattah. Dalam zikir itu, Syafi’i Hadzami yang masih belia pernah mengalami fana’ (lupa dan hilang kesadaran diri) kerena dibimbing agar ingat kepada Allah semata. Ia tidak ingat persis bagaimana situasiya saat itu. Maka kyai pun memberinya doa khusus. Ia dipanggil secara khusus menghadap sang kyai. Kyai Abdul Fattah mendoakan Syafi’i Hadzami agar kelak menjadi orang soleh.

Syafi’i Hadzami juga berguru kepada Pa Sholihin tentang ilmu bahasa Arab, nahwu dan sharaf selama 2 tahun. Dalam mengajar, Pak Solihin tergolong keras dan disiplin, seperti kakeknya. Sebagai seorang yang telah ikut berjasa, maka untuk mengenangnya, musholla tempatnya belajar dinamakam raudlatuh al sholihin.

Setelah mengaji al Qur’an kepada guru-gurunya, Syafi’i Hadzami mengaji kepada Guru Sa’idan di Kemayoran (1948 – 1995). Pada gurunya ini, ia belajar ilmu tajwid ilmu nahwu dengan kitab pegangan mulhat al-i’rab, dan ilmu fiqh dengan kitab pegangan al Tsimar al Yani’ah yang merupakan syarah dari kitab al Riyadh al Badi’ah. Guru Saidan pula yang menyuruhnya belajar kepada kepada guru-guru yang lainnya, misalnya Guru Ya’kub, Sa’idi (Kebon Sirih), Guru Khalid (Gondangdia), dam Guru Abdul Madjid (Pekojan).

Salah satu guru utama Syafi’i Hadzami adalah Habib Ali ibn Husein al Atthas yang terkenal dengan sebutan Habib Ali Bungur. Kepadanya Syafi’i Hadzami belajar lebih kurang 18 tahun, yaitu sejak 1958 – 1976. Seperti murid-murid Habib Ali lainnya (KH. S. Muhammad ibn Ali al Habsyi, Habib Abdullah ibn Abdul Qodir Bil Faqih, KH. Abdullah Syafi’i, KH. Tohir Romli, KH. Abdurrazaq Ma’mun, Prof. KH. Abu Bakar Aceh), Syafi’i Hadzami juga datang dengan membaca kitab dihadapan Habib Ali yang sering disebut dengan sistem sorogan.

Syafi’i Hadzami juga rajin mengikuti pengajian umum yang diasuh oleh Habib Ali ibn Abdurrahman al-Habsyi (Kwitang). Pada awalnya, ia diajak oleh kakeknya untuk menghadiri majlis yang bisa diadakan setiap hari Ahad. Bahkan, dari Habib Ali inilah ia mendapat kata pengantar berbahasa Arab dalam karyanya yang berjudul al Hajjat al Bayyinah.

Guru Syafi’i Hadzami yang lain adalah KH. Mahmud Ramli, seorang ulama besar Betawi. Selama 6 tahun (1950-1956), ia mempelajari kitab-kitab kuning, diantaranya Ihya Ulum ad Din, dan Bujayrimi. Selain Syafi’i Hadzami, murid-murid Guru Romli yang menjadi ulama terkemuka di Jakarta adalah KH. Abdullah Syafi’i, Thabrani Paseban, dan lain-lain.

Syafi’i Hadzami juga berguru kepada KH. Ya’kub Sa’di di Kebon Sirih. Selama 5 tahun (1950-1955) ia telah mengkhatamkan kitab-kitab mantiq dan ushuluddin, seperti kitab Idhah al Mubham, Darwis Quwaysini, dll. Sedangkan dalam ilmu Nahwu, ia belajar kepada KH. Muhammad Ali Hanafiyah seperti kitab; Kafrawi, Mulhat al i’rab dan Asymawi.

Beberapa guru Syafi’i Hadzami lainnya adalah KH. Mukhtar Muhammad (1953-1958), KH. Muhammad Shaleh Mushannif, KH. Zahruddin Utsman, Syaikh Yasin al Fadani, dan KH. Muhammad Thoha.

Jika dilihat dari guru-gurunya ini, tampak sekali Syafi’i Hadzami belajar kepada para ulama yang berasal dari luar Jakarta yang memiliki bobot intelektual yang luar biasa. Namun demikian, tingkat keilmuwan Syafi’i Hadzami tidak kalah dengan ulama-ulama lainnya yang hidup dalam generasi abad ke-20.

Sikap Terhadap Pembaharuan

Dalam setiap perubahan zaman, diperlukan suatu usaha baru untuk menafsirkan dan menyelaraskan agama dengan tuntutan zaman. Karena itu, pembaharuan diyakini sebagai cara untuk menyesuaikan agama agar tidak ketinggalan zaman. Inilah yang diyakini KH. M. Syafi’i Hadzami, bahwa pembaharuan sangat diperlukan oleh agama. Ini berarti ia tidak kaku dalam menyikapi perubahan dan perkembangan yang terjadi. Ia tidak menjadikan pandangan hidupnya menjadi suatu sistem yang tertutup dan kemudian memalingkan diri dari proses modernisasi.

Dalam menyikapi pembaharuan pemahaman ajaran-ajaran agama, KH. M. Syafi’i Hadzami bersikap cukup luwes dan tidak kaku. Dalam menghadapi gagasan-gagasan baru, ia tidak mau langsungmenolak atau menyetujuinya tanpa menimbangnya terlebih dahulu dengan pedoman syari’at. Jadi, pembaharuan dalam memahami agama bukan sesuatu yang harus ditolak, asalkan tidak keluar dari relnya dan ditangani oleh orang yang memiliki persyaratan- persyaratan untuk itu. Pandangan ini didasarkan pada teks hadis Nabi SAW bahwa setiap seratus tahun ada yang disebut mujaddid (pembaharuan). Dalam kehidupan beragama ini ada mujaddid, yaitu orang-orang yang memperbaharui pandangan-pandangan agama. Jadi, yang di perbaharui bukan agamanya, tetapi pandangannya. Ibarat mata yang sudah tidak bisa memandang dengan jelas, bila memakai kacamata, apa yang dipandang akan menjadi lebih jelas. Padahal, objek pandangannya sama saja. Jadi, bukan objeknya yang dirubah, melainkan alat untuk memandangnya yang perlu diperbaharui. Itulah tugas seoarang mujaddid.

Karya-karyanya

KH. M. Syafi’i Hadzami dikenal sebagai ulama produktif menuliskan pemikirannya dalam bentuk buku. Pada umumnya, karya-karyanya ditulis dalam bentuk risalah-risalah kecil dengan bahasa Indonesia bertuliskan arab. Karya-karyanya hampir semuanya ditulis pada era 80-an sebagai puncak intelektual sang kyai. Sedangkan pada tahun-tahun berikutnya, produktifitas menulisnya sudah mulai berkurang.

Karya terkenal KH. M. Syafi’i Hadzami adalah buku yang berjudul Tawdhih al Adillah, yang disusun acara tanya jawab yang diasuhnya di Radio Cenderawasih. Hingga kini, sudah terbit dalam 7 (tujuh) jilid dan telah berkali-kali dicetak ulang, yang peredarannya tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di negeri jiran Malaysia.

Karya-karya lainnya adalah;
1.
Sullamu al Arsy fi Qira’at Warsy

Risalah setebal 40 halaman ini berisi kaidah-kaidah khusus dalam pembacaan al Qur’an menurut Syekh Warasy.
2.
Qiyas adalah Hujjah Syar’iyyah

Dalam risalah ini, dikemukakan dalil-dalil dari al Qur’an, Hadis, dan Ijma’ ulama yang menunjukkan bahwa qiyas merupakan salah satu argumentasi syari’ah.
3.
Qobliyyah Jum’at

Dalam risalah ini membahas kesunatan shalat sebelum shalat jum’at dan hal-hal yang berkaitan dengannya.
4.
Shalat Tarawih

Di dalamnya dikemukakan dan dijelaskan dalil-dalil dari hadis dan keterangan para ulama yang berkaitan dengan shalat tarawih.
5.
Ujalah Fidyah Shalat

Risalah ini membahas perbedaan pendapat tentang pembayaran fidyah (mengeluarkan bahab makanan pokok) untuk seorang muslim yang telah meninggal dunia yang dimasa hidupnya pernah meninggalkan beberapa waktu shalat fardhu.
6.
Mathmah al Rubi fi Ma’rifah al Riba

Dalam risalah ini dibahas beberapa hal yang berkaitan dengan riba, seperti hukum riba, bank simpan pinjam, deposito, dan sebagainya.


Wafatnya beliau pada pagi 7 Mei 2006 bersamaan 9 Rabi`uts-Tsani 1427 dalam usia 75 tahun merupakan satu kehilangan bagi kita. Al-Fatihah....


Sumber : Ihsan dari http://www.pondokpesantren.net

Jumat, 03 Desember 2010

MUALLIM


MUALLIM SYAFI'I HADZAMI
Ulama Asli Betawi yang Disegani para Habaib
02/09/2008

Pada masa kekuasaan Prabu Siliwangi, kawasan Betawi disebut sebagai Sunda Kelapa di bawah kerajaan Pajajaran. Pada Masa kerajaan Islam, kawasan ini berada di bawah kendali Kesultanan Banten, sedangkan ketika Belanda datang, maka ia disebut sebagai Batavia.

Karena sebenarnya Batavia adalah sebuah kota baru (benar-benar dibangun baru) yang berupa kota benteng dengan meniru semacam kastil di Eropa, yakni terletak di sepanjang garis pantai yang sekarang disebut sebagai kawasan Kota dan Ancol, maka daerah-daerah pemukiman penduduk Asli yang bukan kawasan pesisir murni tetap berada dalam situasi sebagaimana asalnya, seperti sebelum benteng Batavia didirikan oleh Belanda. Yang membedakan hanyalah, statusnya yang terjajah dan penguasanya yang kejam serta kondisi kehidupan yang kian sengsara, selebihnya tetap utuh seperti adanya, mengaji dan bercocok tanam.

Betawi adalah sebuah kawasan yang sangat religius sebelum menjadi seperti yang kita kenali sekarang sebagai kawasan metropolitan dengan berbagai kesibukan pemerintahan, bisnis dan hiburan saat ini. Betawi adalah sebuah tempat yang khas dengan tradisi kesantrian yang berbeda dengan kawasan-kawasan lain di pulau Jawa, baik tanah Pasundan maupun wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Tradisi kesantrian di Betawi sungguh sangatlah unik, karena masyarakat betawi umumnya tidak mengandalkan pesantren dengan asrama tinggal para santri dalam mendidik generasi penerusnya. Betawi memiliki tradisi mengaji yang sedemikian kuat terhadap para ulama di tempat tinggal yang berbeda-beda. Para santri pergi mengaji dan kemudian pulang kembali ke rumahnya begitu pengajian selesai. Mereka dapat berpindah-pindah guru mengaji menurut kecocokan masing-masing santri. Kondisi seperti ini berlangsung hingga tahun 1960-an. Biasanya jika mereka ingin meneruskan pendidikannya, biasanya mereka akan melanjutkan ke Timur Tengah, terutama ke Makkah.

Di tengah-tengah suasana penjajahan Belanda yang menjadikan kehidupan seluruh rakyat berada dalam kesulitan, terlahirlah seorang bayi mungil pertama dari pasangan suami istri Muhammad Saleh Raidi dan Ibu Mini yang diberi nama Muhammad Syafi’i pada tanggal 31 Januari 1931 M. bertepatan dengan 12 Ramadhan 1349 H. di kawasan Rawa Belong, Jakarta Barat. Ayah Syafi’i adalah seorang Betawi asli, sedangkan ibunya berasal adari daerah Citeureup Bogor. Ayahnya adalah seorang pekerja pada perusahaan minyak asing di Sumatera Selatan. Dua tahun kemudian, setelah Syafi’i lahir, ayahnya pulang ke kampung halaman dan tidak pernah kembali lagi bekerja di perusahaan minyak asing. Ayahnya kemudian bekerja sebagai penarik bendi.

Ulama Betawi ini sejak kecil di asuh oleh kakeknya dari pihak ayah, yang merupakan seorang guru agama yang tinggal di daerah Batu Tulis XIII, Pecenongan yang bernama guru Husin. Karenanya, Syafi’i kecil juga didik sebagai guru agama. Kakeknya ini adalah seorang pensiunan pegawai percetakan yang tidak memiliki anak, sehingga sebenarnya, ia bukanlah kakek langsung, melainkan paman dari ayah Syafi’i. dengan demikian ia memiliki banyak waktu untuk mendidik syafi’i mengaji bersama dengan teman-temannya di samping berdagang kecil-kecilan untuki mengisi waktu senggang. Dari sini terlihat bahwa Syafi’i adalah anak yang cerdas dan ulet, ia tidak suka menyia-nyiakan waktunya hanya untuk bersantai-santai saja.

Kakeknya ini sangat keras dalam mendidik anak-anak, sehingga dalam usia Sembilan tahun, Syafi’i telah berhasil menghatamkan al-Qur’an. Sejak kecil Syafi’i tidak pernah mengalami benturan dengan kakeknya. Meskipun kakeknya ini adalah orang kaya dan pensiunan pegawai percetakan, namun ia sama sekali tidak pernah mencita-citakan cucunya kelak menjadi seorang pegawai juga. Karenanya, kakeknya selalu mengajak Syafi’i ke tempat-tempat pengajian, kemana pun kakeknya ini mengaji. Sebagai seorang guru ngaji, kakeknya juga menginginkan cucunya belajar mengaji dan bergulat di bidang agama.

Sehingga teman-teman dan guru-guru kakeknya, secara otomatis juga menjadi guru langsung dari Syafi’i muda. Di antara teman-teman kakeknya ini adalah, Guru Abdul Fatah yang tinggal di daerah Batu Tulis. Juga kepada Bapak Sholihin di Musholla kakeknya, sehingga Musholla tempatnya mengaji ini kemudian dinamakan dengan Raudhatus Sholihin.


Menikah dan Terus Belajar
Sebagaimana kebiasaan masyarakat Betawi pada waktu itu, bahkan masyarakat Indonesia pada umumnya, maka Syafi’i juga menikah di usia muda, yakni tujuh belas tahun. Syafi’i menikahi gadis teman sepermainannya di Batu Tulis, seorang gadis bernama Nonon. Ketika menikah Syafi’i telah mengikuti neneknya pindah ke kawasan Kemayoran sepeninggal kakeknya.

Syafi’i yang sejak kecil memang sangat gigih dalam menuntut ilmu dan menjalani hidup yang serba dibatasi dalam didikan kakeknya, tek menjadikan pernikahan sebagai hambatan untuk terus mencari ilmu. Syafi’i menamatkan sekolah dasar pada tahun 1942 M. dan setelah kemerdekaan ia bekerja sebagai karyawan di RRI. Karena ia juga selalu membawa-bawa kitab-kitab bacaannya, maka ruang kerjanya yang di RRI juga berfungsi sebagai tempat muthala’ah.
Karena telah dewasa dan memiliki cukup ilmu, maka selain bekerja dan berumah tangga, Syafi’i juga mulai mengajar secara resmi. Berangsur-angsur kemudian ia sering dipanggil sebagai Muallim syafi’i, yang berarti Guru Syafi’i. Namun bukan berarti setelah mulai mengajar, ia berhenti berguru dan mengaji. Muallim Syafi’i tetap merupakan pribadi yang tawadhu’ dan senantiasa giat menuntut ilmu. Karenanya, ia tetap memiliki banyak guru yang aktif menyampaikan ilmu-ilmu agama kepadaya, selain telah mulai memiliki banyak murid.

Di antara guru-gurunya tersebut adalah, Habib Ali bin Husein al-Atthas, di Bungur kawasan Senen Jakarta Pusat; Ajengan KH. Abdullah bin Nuh, dari Cianjur Jawa Barat yang aktif berceraman di RRI; Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi, Kwitang Jakarta Pusat; KH. Ya’qub Saidi, Kebun Sirih Jakarta Pusat; KH. Muhammad Ali Hanafiyah: Pekojan Jakarta Barat; KH. Muhtar Muhammad, kebun Sirih; KH. Muhammad Sholeh Mushonnif, Kemayoran Jakarta Pusat; KH.Zahruddin Usman yang berasal dari Jambi; dan sederet ulama-ulama lain di seantero Jakarta, baik yang memang tinggal di Jakarta, maupun para ulama yang sedang bertugas di Jakarta. Syeikh Yasin bin Isa al-Fadani adalah salah satu guru dari Muallim Syafi’i, karena seringkali ketika Syeikh Yasin berkunjung ke Jakarta dan tinggal di tempat salah seorang temannya di Prapanca Jakarta Barat, Muallim Syafi’i selalu menyempatkan hadir di pengajian-pengajian yang di buka oleh Syeikh Yasin di sana.

Dari tata cara beginilah, mengajar sembari terus menuntut ilmu, Muallim Syafi’i mendarmabaktikan hidupnya untuk perkembangan islam di Jakarta. Lambat laun, nama muallim Syafi’i bertambah menjadi Syafi’i Hadzami. Ketika Beliau telah bergelut dengan masyarakat sela puluhan tahun, maka namanya kemudian menjadi salah satu tokoh terdepan di kehidupan umat Islam Jakarta. Murid-muridnya terdiri dari beragam usia, latar belakang profesi dan kesukuan. Hal ini terjadi seiring terus tergesernya dan perpindahan para penduduk asli Betawi dari kampong-kampung asal mereka. Sehingga pengajian-pengajian Muallim Syafi’i Hadzami yang dahulu ramai dikunjungi oleh penduduk suku Betawi, lambat laun juga dibanjiri oleh penduduk-penduduk pendatang yang beragam sukunya.


Kharisma dan Daya Tarik
Termasuk pula yang menjadi daya tarik pengajian Muallim Syafi’i Hadzami adalah karena pengajian-pengajiannya selalu juga dihadiri oleh para Kyai dan teman-teman seperjuangannnya. Bahkan banyak sekali para ulama yang dahulunya adalah guru-guru Muallim Syafi’i, kini menghadiri pengajian-pengajian Beliau sebagai murid atau pendengar.

Sejak awal, Muallim Syafi’i Hadzami telah mengajar ke berbagai majlis ta’lim. Pada tahun 1963, pada usia 32 tahun, Beliau membentuk sebuah Badan Musyawarah Majlis Ta’lim (BMMT) yang diberi nama al-’Asyirotus Syafi’iyyah. Badan ini kemudian berkembang menjadi sebuah Yayasan pada tahun 1975 yang mampu mendirikan sebuah komplek pesantren di kampung Dukuh, kebayoran lama, Jakarta Selatan. Pesantren ini kemudian berkembang mejadi sebuah lembaga pendidikan yang berhasil mengelola pendidikan dari tingkat TK hingga Aliyah. Di komplek pesantren inilah kemudian Muallim Syafi’i tinggal sepanjang usianya. Namun demikian pengajian-pengajian ke berbagai penjuru Jakarta tetp dilakoninya sepanjang hidup. Bahkan hampir-hampir tiada waktu luang untuk sekedar bersantai, karena kalaupun Muallim sedang tidak mengajar, maka Beliau pasti sedang Muthola’ah. Hal ini dikarenakan sedemikian cinta beliau kepada ilmu-ilmu agama. Bahkan karena cintanya ini, ruang tamu di rumahnya pun lebih mirip sebagai perpustakaan.

Gaya bicaranya datar-datar saja namun tertib dan jelas, cara berpakaiannya yang wajar-wajar saja, dan sikapnya yang tenang, serta pembawaannya yang sederhana, menjadikan Muallim disegani oleh seluruh ulama di betawi, baik dari kalangan habaib maupun para ulama Betawi Asli. Hal ini terutama sekali dikarenakan sikap Beliau yang sangat teguh dalam memegang prinsip-prinsip agama. Selain itu Muallim Syafi’i Hadzami juga terkenal sangat rendah hati dan mencintai para muridnya.

Menurut KH. Rodhi Sholeh, salah seorang Mustasyar PBNU yang mengenal Muallim Syafi’i Hadzami ini dalam sebuah pengajian di PWNU DKI Jakarta, Muallim Syafi’i Hadzami adalah sosok guru yang tidak suka menyombongkan diri meskipun Beliau sangat alim. Banyak orang-orang dari daerah yang merasa telah menjadi Betawi setelah kenal dengan beliau, karena Beliau sama sekali tidaklah membedakan mana orang-orang pendatang dari daerah dan mana orang-orang asli Jakarta.

Sementara KH. Irvan Zidni yang mengaku sering bertemu langsung di forum-forum Batsul Masail Muktamar PBNU mengakui bahwa Muallim Syafi’i Hadzami memberi bobot yang berbeda kepada ulama-ulama asal Jakarta, karena dalam forum-forum seperti itu, memang biasanya pendapat mereka sering ditolak. Namun keberadaan Muallim Syafi’i Hadzami mampu menepis kebiasaan ini. Muallim memang memiliki kemampuan keilmuan yang cukup untuk mempertahankan pendapat-pendapatnya. Dalam arena batsul masail, kemampuannya sebanding dengan para ulama dari daerah-daerah lain yang sedari kecil menuntut ilmu di pesantren selama puluhan tahun, sehingga sangatlah sukar untuk meruntuhkan argumen-argumen Beliau.

Karya-Karya
Muallim Syafi’i Hadzami, selain mendarmabhaktikan seluruh aktivitasnya untuk kemajuan umat Islam, khususnya di daerah Jakarta, Beliau juga memiliki karya-karya tulis yang masih dapat dijadikan referensi hingga sekarang. Karya-karya Muallim hampir semuanya ditulis sebelum era 1980-an meski masih memiliki usia panjang hingga akhir 2006, namun tidak lagi ditemukan karya-karya yang merupakan buah tangan langsung Beliau pada era-1990-an. Beberapa buku memang kemudian banyak di terbitkan, terutama setelah tahun 2000 M. namun kesemuanya adalah kumpulan hasil transkripsi pidato-pidato Muallim, baik dalam pengajian-pengajian darat maupun pengajian-pengajian yang disiarkan melalui gelombang radio.

Karya-karya tersebut antara lain adalah Taudhihul Adillah yang menjelaskan tentang hukum-hukum syariat berikut dengan dalil-dalil dan keterangan-keterangannya; Sullamul Arsy fi Qiro’atil Warsy yang menjelaskan tentang seluk beluk bacaan bacaan al-Qur’an menurut Imam Warsy, kitab ini disusun pada tahun 1956 M. saat berusia 25 tahun.

Sementara karya-karya lain biasanya berupa penjabaran tentang suatu permasalahan, seperti penggalan-penggalan sebuah permasalahan hokum dan ibadah-ibadah tertentu. Karya-karya jenis ini antara lain, Qiyas adalah Hujjah Syariah (1969 M.); Qabliyyah Jum’at; Shalat tarawih; Ujalah Fidyah Sholat (1977 M.) dan Mathmah ar-Ruba fi Ma’rifah ar-Riba (1976 M.).

Muallim dan Kitab Kuning
Hingga usia senjanya, hari-hari Muallim Syafi’i Hadzami senantiasa diisi dengan mengajar berpindah-pindah, dari satu majlis ta’lim ke majlis ta’lim lain. Meskipun lembaga pendidikan yang didirikannya kini telah berkembang dan mapan, namun Beliau senantiasa membagi waktunya untuk ummat secara merata.

Kenyataan ini menjadikan hari-hari Muallim senantiasa berjibaku dengan kitab kuning, sebab pengajian-pengajian Muallim Syafi’i Hadzami tidak pernah lepas dari kitab kuning. Di sini Beliau tampak menekankan betapa tradisionalisme adalah sebuah watak perjuangan yang tidak boleh ditinggalkan begitu saja.
Dalam pandangan Muallim, kitab kuning merupakan dasar bagi pemahaman umat Islam untuk memahami sumber hukum asal syariat.

Ini berarti bahwa dalam pandangan Syafi’i Hadzami, sebuah kesalahan fatal apabila mencoba memahami al-Qur’an dan hadits secara langsung tanpa mengerti pandangan dari para ulama terlebih dahulu. Syafi’i Hadzami meyakini bahwa kitab kuning masih selalu relevan dan selalu menawarkan hal-hal baru bagi masyarakat Muslim. Hal ini tentu saja menunjukkan bahwa Muallim Syafi’i sangat mengikuti perkembangan kitab kuning. Artinya pembacaan dan oleksi kitab-kitab kuningnya boleh dibilang up to date. Memang Muallim Syafi’i Hadzami sangat banyak mengoleksi kitab-kitab kuning yang beraneka ragam, mulai klasik, modern hingga kontemporer.

Karena telah mengenyam manfaat yang demikian besar dari kitab kuning, maka Muallim memiliki kiat-kiat jitu untuk dapat menguasai kitab kuning dengan benar, dengan arti yang sebenarnya. Menurut Muallim, hal pertama-tama yang semestinya dilakukan oleh para santri yang mempelajari kitab kuning adalah menguasai ilmu-ilmu alat, hingga masalah yang sekecil-kecilnya. Ini berarti seorang pembaca kitab kuning haruslah memahami lughat. Artinya harus mengenal lughat yg berbeda-beda, serta harus memiliki rasa penasaran yang tinggi kepada ilmu-ilmu perbandingan madzhab, sehingga tidak kaku dalam memberikan fatwa atau mem
andang suatu permasalahan hukum.

Hal ini jelas sangat terlihat dari aktivitas-aktivitas muallaim yang bukan hanya di MUI DKI Jakarta saja, melainkan juga di NU. Muallaim sangat rajin menghadiri batsul masail-batsul masail, dan rapat pleno-rapat pleno yang diadakan oleh PBNU, terutama yang diadakan di Jakarta. Hingga pada muktamar NU ke 29 di Cipasung, Tasikmalaya, Muallim Syafi’i Hadzami dipercaya menjadi salah satu Rois Suriah PBNU. Hal ini tentu saja merupakan pengakuan keilmuan dan keulamaan dari NU mengingat jarang sekali ada ulama dari Batawi yang dipercaya untuk menduduki posisi ini.

Karisma keulamaan dalam diri Muallim Syafi’i Hadzami memancar bukan hanya di Indonesia. Kedalaman ilmu Muallim juga dikenal hingga Mekkah dan Hadramaut. Hal ini nampak dari seringnya muallim mendapat kunjungan dari beberapa ulama dan para Habaib dari Hadramaut.

Ba’da mengajar di Masjid Ni’matul Ittihad, tepatnya tanggal 07 mei 2006 M. Muallaim Syafi’I Hadzami merasakan nyeri di dada dan sesak napas. Muallim berpulang ke rahmatullah dalam perjalanan menuju ke Rumah Sakit Pertamina Pusat (RSPP). Linangan air mata mengalir mengantarkan kepergian sang guru yang sangat dicintai oleh seluruh penduduk Jakarta ini. (Syaifullah Amin).


Komentar Tokoh :

"Sejak Pertama mengenal K.H. Muhammad Syafi'i Hadzami, saya terkesan dengan penampilannya yang benar-benar
menunjukan sebagai sosok ulama. Saya menyaksikan sifat tawadhu'nya, adabnya, dan tertib bicaranya yang merupakan tanda-tanda awal dari seorangulama yang sesungguhnya. Kualitas keilmuan KH. Muhammad Syafi'i Hadzami juga tidak bisa disangsikan lagi. Tidak ada celah bagi seseorang untuk meragukan keilmuannya."

Prof. KH. Ali Yafie - Ketua Umum MUI



"Kalau kita perhatikan, beliau memang satu-satunya tokoh di Jakarta di masa sekarang yang mempunyai kemampuan yang luar biasa dalam ilmu-ilmu keislaman. Bila dinyatakan dengan istilah sekarang, beliau dapat disebut sebagai seorang multi disipliner. Beliau itu seorang faqih, sekaligus seorang ushuli, seorang mufassir, seorang mutashawwif, dan seorang muhaddits. Jadi, ilmu beliau itu komplit."





Prof. Dr. Sayyid Agil al-Munawwar - Direktur Pasca Sarjana IAIN Jakarta




"Banyak data dan fakta yang berbicara tentang al-mukarram KH. Muhammad Syafi'i Hadzami. Kegiatan mengajar, mendidik, dan berdakwah adalah fakta-fakta yang menunjukan siapa beliau sebenarnya. Keistimewaan beliau adalah banyak mengajar para asatidzah dan muallimin. Itu karena beliau mempunyai modal dasar berupa keluasan ilmu. Semua itu diperolehnya berkat ketekunan beliau menggalinya dari para ulama yang ketinggian dan keluasan ilmu mereka tidak diragukan lagi, baik dari kalangan habaib maupun lainnya.



Habib Syekh bin Ali al-Jufri



"Sejak pertama kali berjumpa dengan beliau, kesan yang saya tangkap adalah beliau itu seorang yang sederhana dan senantiasa membiangkai tingkah lakunya dengan norma-norma sebagaimana para ulama ahli fiqih pada umumnya. Beliau menghargai orang lain dengan baik. Pendeknya, beliau selalu menjaga adab dan sopan santun.

Prof. KH. Kosim Nurzeha



"Bila ada kesalahan, beliau dengan senang hati mau menerima koreksi dari orang lain. Bahkan, kita yang mengkoreksi akan dibela oleh beliau bila koreksian kita benar. Hal ini membuat saya senang sekali. Beliau itu baik sekali kepada saya, "Tolong sambil di-muthola'ah-kan." Jadi beliau tidak menutup kesempatan orang lain untuk maju. Bahkan, kita semua diajaknya untuk sama-sama maju."

KH. M. Rodhi Sholeh - Mustasyar dan Mantan Wakil Rois 'Aam PBNU


"Beliau adalah seorang kiai yang berpenampilan sederhana namum memancarkan kharisma yang kuat karena dorongan sinar iman, ilmu, dan al-akhlaqul-karimah. Sejak lebih dari tigapuluh tahun yang lalu nama beliau sebagai ulama sudah harum di telinga ummat Islam, Khususnya di Jakarta.

KH. Abdurrasyid Abdullah Syafi'i - Pimpinan Perguruan asy-Syafi'iyah, Jakarta.