Tampilkan postingan dengan label Nasehat Diri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasehat Diri. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Juli 2011

Nikmat Tak Tertandingi

Sungguh perlu kita renungi & sadari bahwa kenikmatan Allah itu amatlah banyak & besar pada kita ditiap wktunya..

tidaklah dapat jika dibandingkan dengan kesulitan & kesempitan yang kita alami, karena Nikmat-NYA tersebut sangatlah banyak dan besar..

bahkan tidak pula dapat diimbangi dengan ibadah yang kita lakukan sepanjang usia kita..

karenanya tidaklah pantas lagi bagi kita tuk berkeluh kesah...

Justru sehrusnya kita dapat selalu tenang & bahagia.. karena kita

memiliki Allah SWT yg bersifat Maha Sempurna...

Mari kita pelajari dan yakini akan sifat2 Allah SWT yang amat smpurna itu..

IMAN itu YAKIN yang MUTLAK

Bukankah kita sepaham, bahwa …..

Bila kita mengaku mempercayai dan meyakini akan seseorang maka tentu kita telah mengenalnya dengan cukup baik, baik itu secara sifat, perkataan, maupun perbuatannya.

Tidaklah mungkin kita mengaku mempercayai dan meyakini akan seseorang sedangkan kita belum pernah mengenal sifat, perkataan, maupun perbuatannya.

Karenanya….

Pantaskah kita menyatakan percaya dan yakin akan Allah SWT dan Rasul-Nya ?, sedang kita belum pernah mengenal dan meyakini sifat (TAUHID / Rukun Iman), perkataan (Al QUR’AN dan HADIST), dan perbuatannya (JAGAT ALAM RAYA dan ISINYA).

Lalu....

Mungkinkah karena keengganan dan kelalaian kita untuk mengenal serta menyakini akan sifat, perkataan, dan perbuatan-Nya itu, sehingga membuat kita sampai saat ini masih berani serta gemar melalaikan dan mengingkari akan segala tuntunan dan ajaran-ajaran-Nya..??, Bahkan kita berani melakukan dan menempatkan diri ditengah-tengah kesesatan yang amat di murkai oleh Allah SWT sebagai sang Khaliq juga Pemilik dan Penguasa Jagat Alam Raya dan segala Isinya.....

Sungguh, khawatir dan takutlah kita akan murka-Nya Allah SWT...

Marilah kita cari dan dapatkan bersama Ridho-Nya Allah SWT, karena itu lebih bernilai dari apapun yang pernah dan akan ada di Alam Jagat Raya ini....

Contoh-contoh kelalaian yang kerap kita lakukan dalam keseharian, baik disadari maupun tanpa disadari :

  1. Yakin dengan bersembunyi-sembunyi dalam melakukan kesesatan dirinya akan selamat. Padahal diketahui olehnya, bahwa ada Allah SWT yang Maha Melihat dan Maha Mengetahui;
  2. Berkeluh kesah akan nasib hidup yang dipandangnya amat tidak adil dan menyenangkan bagi dirinya, sedang ia mengetahui bahwa ada Allah SWT yang Maha Pengasih, Penyayang dan Maha Berkehendak;
  3. Khawatir dan kurang puas akan rizqinya, padahal ia mengetahui bahwa ada Allah SWT yang Maha Adil dan Bijaksana;
  4. Khawatir dan Menunda-nunda pertobatan didalam kesesatan, padahal ia mengetahui bahwa ada Allah SWT yang Maha Pengampun lagi Maha Perkasa;
  5. Melakukan berbagai ibadah dengan pengetahuan seadanya tanpa ada keinginan dan usaha untuk mengetahui dan mempelajarinya lebih mendalam serta lebih baik lagi;
  6. dan yang lain-lainnya, yang diketahui oleh diri kita masing-masing.

Penyebab inti dari terjadinya contoh-contoh tersebut di atas disimpulkan, karena ternyata kebanyakan dari kita baru dapat mengetahui Allah SWT dan Rukun Ke-Iman-an lainnya hanya sebatas simbol ke Islam an kita saja, lalu kita lalai dan enggan tuk mengenal dan mengkaji lebih baik lagi mengenai pemahaman dan kandungan makna yang ada didalamnya. Sehingga hal tersebut tentulah membuahkan keyakinan yang salah dan rapuh akan Iman itu sendiri....

Lantas bagaimana dengan amal ibadah kita selama ini...??

Telah sesuaikah dengan tuntunan dan syarat-syaratnya...??

Yakinkah akan sampai kepada-Nya....??

Berapa besarkah peluang diterimanya amal ibadah kita ...??

Bukankah seluruh amal ibadah itu dilakukan dengan berbasis kepada Ke-Iman-an yang benar dan mantap....??

Wallahuallam...

Semoga dengan penulisan ini semua, memberikan kita inspirasi dan motivasi bagi kita untuk mau membuka diri dan meringankan diri kita agar kita bersama mau mencari dan mengunjungi berbagai majlis-majlis ilmu yang akan memberikan kita pemahaman dan keyakinan yang benar akan Allah SWT, Rassul serta ajaran-ajaran dan tuntunan-tuntunan yang disampaikannya.... Amin

Sahabat Sang Pelajar

Muhammad Luthfi Ali bin H. Ali Dimmung bin Guru Dimmung (Rohimun) bin Guru Na’im

Selasa, 05 Juli 2011

SOMBONG VS TAWADHU

Sifat sombong adalah sesuatu yang sangat tercela. Karena Al Qur’an dan As Sunah mencelanya dan

mengajak kita untuk meninggalkannya. Bahkan orang yang mempunyai sifat ini diancam tidak masuk ke

dalam surga. Sebaliknya, di dalam Al Qur’an Allah memuji hamba-hamba-Nya yang rendah hati dan

tawadhu’ kepada sesama. Allah ta’ala berfirman,

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

“Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih adalah orang-orang yang berjalan di atas muka bumi

dengan rendah hati dan apabila orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang

baik.” (QS. Al Furqaan: 63)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim)

Celaan Terhadap Kesombongan dan Pelakunya

Allah ta’ala berfirman,

إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ

“Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan diri.” (QS. An Nahl: 23)

Allah ta’ala juga berfirman,

تِلْكَ الدَّارُ الْآَخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُ وا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا

“Itulah negeri akhirat yang Kami sediakan bagi orang-orang yang tidak berambisi untuk

menyombongkan diri di atas muka bumi dan menebarkan kerusakan.” (QS. Al Qashash: 83)

Adz Dzahabi rahimahullah berkata, “Kesombongan yang paling buruk adalah orang yang

menyombongkan diri kepada manusia dengan ilmunya, dia merasa hebat dengan kemuliaan yang dia

miliki. Orang semacam ini tidaklah bermanfaat ilmunya untuk dirinya. Karena barang siapa yang menuntut

ilmu demi akhirat maka ilmunya itu akan membuatnya rendah hati dan menumbuhkan kehusyu’an hati

serta ketenangan jiwa. Dia akan terus mengawasi dirinya dan tidak bosan untuk terus memperhatikannya.

Bahkan di setiap saat dia selalu berintrospeksi diri dan meluruskannya. Apabila dia lalai dari hal itu, dia

pasti akan terlempar keluar dari jalan yang lurus dan binasa. Barang siapa yang menuntut ilmu untuk

berbangga-banggaan dan meraih kedudukan, memandang remeh kaum muslimin yang lainnya serta

membodoh-bodohi dan merendahkan mereka, sungguh ini tergolong kesombongan yang paling besar.

Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun hanya sekecil

dzarrah (anak semut), la haula wa la quwwata illa billah.” (lihat Al Kaba’ir ma’a Syarh Ibnu ‘Utsaimin,

hal. 75-76 cet. Darul Kutub ‘Ilmiyah. Sayangnya di dalam kitab ini saya menemukan kesalahan cetak,

seperti ketika menyebutkan ayat dalam surat An Nahl di atas, di sana tertulis An Nahl ayat 27 padahal

yang benar ayat 23. Wallahul muwaffiq)

Ilmu Menumbuhkan Sifat Tawadhu’

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Salah satu tanda kebahagiaan dan kesuksesan adalah tatkala

seorang hamba semakin bertambah ilmunya maka semakin bertambah pula sikap tawadhu’ dan kasih

sayangnya. Dan semakin bertambah amalnya maka semakin meningkat pula rasa takut dan waspadanya.

Setiap kali bertambah usianya maka semakin berkuranglah ketamakan nafsunya. Setiap kali bertambah

hartanya maka bertambahlah kedermawanan dan kemauannya untuk membantu sesama. Dan setiap kali

bertambah tinggi kedudukan dan posisinya maka semakin dekat pula dia dengan manusia dan berusaha

untuk menunaikan berbagai kebutuhan mereka serta bersikap rendah hati kepada mereka.”

Beliau melanjutkan, “Dan tanda kebinasaan yaitu tatkala semakin bertambah ilmunya maka bertambahlah

kesombongan dan kecongkakannya. Dan setiap kali bertambah amalnya maka bertambahlah

keangkuhannya, dia semakin meremehkan manusia dan terlalu bersangka baik kepada dirinya sendiri.

Semakin bertambah umurnya maka bertambahlah ketamakannya. Setiap kali bertambah banyak hartanya

maka dia semakin pelit dan tidak mau membantu sesama. Dan setiap kali meningkat kedudukan dan

derajatnya maka bertambahlah kesombongan dan kecongkakan dirinya. Ini semua adalah ujian dan

cobaan dari Allah untuk menguji hamba-hamba-Nya. Sehingga akan berbahagialah sebagian kelompok,

dan sebagian kelompok yang lain akan binasa. Begitu pula halnya dengan kemuliaan-kemuliaan yang ada

seperti kekuasaan, pemerintahan, dan harta benda. Allah ta’ala meceritakan ucapan Sulaiman tatkala

melihat singgasana Ratu Balqis sudah berada di sisinya,

هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَآْفُرُ

“Ini adalah karunia dari Rabb-ku untuk menguji diriku. Apakah aku bisa bersyukur ataukah justru

kufur.” (QS. An Naml: 40).”

Kembali beliau memaparkan, “Maka pada hakikatnya berbagai kenikmatan itu adalah cobaan dan ujian

dari Allah yang dengan hal itu akan tampak bukti syukur orang yang pandai berterima kasih dengan bukti

kekufuran dari orang yang suka mengingkari nikmat. Sebagaimana halnya berbagai bentuk musibah juga

menjadi cobaan yang ditimpakan dari-Nya Yang Maha Suci. Itu artinya Allah menguji dengan berbagai

bentuk kenikmatan, sebagaimana Allah juga menguji manusia dengan berbagai musibah yang

menimpanya. Allah ta’ala berfirman,

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَآْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَآْرَمَنِ . وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ . آَلَّا

“Adapun manusia, apabila Rabbnya mengujinya dengan memuliakan kedudukannya dan mencurahkan

nikmat (dunia) kepadanya maka dia pun mengatakan, ‘Rabbku telah memuliakan diriku.’ Dan apabila

Rabbnya mengujinya dengan menyempitkan rezkinya ia pun berkata, ‘Rabbku telah menghinakan aku.’

Sekali-kali bukanlah demikian…” (QS. Al Fajr : 15-17)

Artinya tidaklah setiap orang yang Aku lapangkan (rezekinya) dan Aku muliakan kedudukan (dunia)-nya

serta Kucurahkan nikmat (duniawi) kepadanya adalah pasti orang yang Aku muliakan di sisi-Ku. Dan

tidaklah setiap orang yang Aku sempitkan rezkinya dan Aku timpakan musibah kepadanya itu berarti Aku

menghinakan dirinya.” (Al Fawa’id, hal. 149)

Ketawadhu’an ‘Umar bin Al Khaththab radhiyallahu’anhu

Disebutkan di dalam Al Mudawwanah Al Kubra, “Ibnul Qasim mengatakan, Aku pernah mendengar

Malik membawakan sebuah kisah bahwa pada suatu ketika di masa kekhalifahan Abu Bakar ada seorang

lelaki yang bermimpi bahwa ketika itu hari kiamat telah terjadi dan seluruh umat manusia dikumpulkan. Di

dalam mimpi itu dia menyaksikan Umar mendapatkan ketinggian dan kemuliaan derajat yang lebih di

antara manusia yang lain. Dia mengatakan: Kemudian aku berkata di dalam mimpiku, ‘Karena faktor

apakah Umar bin Al Khaththab bisa mengungguli orang-orang yang lain?” Dia berkata: Lantas ada yang

berujar kepadaku, ‘Dengan sebab kedudukannya sebagai khalifah dan orang yang mati syahid, dan dia

juga tidak pernah merasa takut kepada celaan siapapun selama dirinya tegak berada di atas jalan Allah.’

Pada keesokan harinya, laki-laki itu datang dan ternyata di situ ada Abu Bakar dan Umar sedang duduk

bersama. Maka dia pun mengisahkan isi mimpinya itu kepada mereka berdua. Ketika dia selesai bercerita

maka Umar pun menghardik orang itu seraya berkata kepadanya, “Pergilah kamu, itu hanyalah mimpi

orang tidur!” Lelaki itupun bangkit meninggalkan tempat tersebut. Ketika Abu Bakar telah wafat dan

Umar memegang urusan pemerintahan, maka beliau pun mengutus orang untuk memanggil si lelaki itu.

Kemudian Umar berkata kepadanya, “Ulangi kisah mimpi yang pernah kamu ceritakan dahulu.” Lelaki itu menjawab, Bukankah anda telah menolak cerita saya dahulu?! Umar mengatakan, Tidakkah kamu

merasa malu menyebutkan keutamaan diriku di tengah-tengah majelis Abu Bakar sementara pada saat itu

dia sedang duduk di tempat itu?!” Syaikh Abdul Aziz As Sadhan mengatakan, “Umar radhiyallahu ‘anhu

tidak merasa ridha keutamaan dirinya disebutkan sementara di saat itu Ash Shiddiq (Abu Bakar) -dan Abu

Bakar radhiyallahu ‘anhu jelas lebih utama dari beliau- hadir mendengarkan kisah itu. walaupun

sebenarnya dia tidak perlu merasa berat ataupun bersalah mendengarkan hal itu, akan tetapi inilah salah

satu bukti kerendahan hati beliau radhiyallahu ‘anhu.” (lihat Ma’alim fi Thariq Thalabil ‘Ilmi, hal.

103-104)

Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa shahbihi wa sallam.

***

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi

Artikel www.muslim.or.id

Hamba Duniawi

Sabtu, 02 Juli 2011 12:11 WIB

Oleh : Agustiar Nur Akbar

Sebagai seorang muslim tentu kita tahu siapa Tuhan kita. Siapa yang menciptakan kita. Siapa yang pantas kita sembah. Dan juga mengatahui penghambaan kita untuk siapa. Serta kita ini adalah hamba siapa.

Namun tahukah engkau wahai saudaraku? Sesungguhnya secara sadar tidak sadar, kita telah menjadi hamba selain Allah SWT. Mau tidak mau kita sudah termasuk orang yang menuhankan tuhan selain Dzat Yang Maha Agung lagi Maha Esa, Allah SWT. Yang kita tuhankan ini bisa juga disebut berhala modern. Sehingga kita seringkali terjerumus dan terjatuh dalam penghambaan kepadanya. Secara tidak sadar dan sadar, kita telah menyembahnya, menyerahkan diri kita sepenuhnya kepada tuhan ini. Kita rela melakukan apapun demi tuhan yang tidak layak kita sembah ini.

Materi dan duniawi beserta segala macam isinya seperti popularitas, wibawa, jabatan, dan lain sebagainya. Itu semua adalah tuhan yang kita sembah selain Allah SWT. Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu. Rasulullah SAW bersabda, “Celakalah hamba-hamba dinar, dirham, dan kain beludru. Jika diberi ia rela dan jika tidak diberi ia tidak rela”. (H.R Bukhari).

Imam Shon’ani dalam Subulu as Salam syarah Bulughu al-Maram menjelaskan. Bahwasanya yang dimaksud dengan hamba dinar dan dirham adalah orang yang menghambakan dirinya kepada duniawi. Ketika ia mencari dunia seolah ia adalah hamba dari dunia itu dan dunia adalah sang raja-nya. Serta ia telah benar-benar tenggelam kepada syahwat duniawinya.

Beliau juga menambahkan. Bahawasanya yang tercela dari dunia adalah ketika seorang hamba telah menenggelamkan dan menyibukan dirinya untuk dunia. Sehingga ia melupakan kewajibannnya kepada Allah SWT. Dzat yang lebih berhak diutamakan dari apapun dan siapapun.

Marilah kita renungkan bersama akan hal ini wahai saudaraku! ‘abdullah artinya hamba Allah, menuhankan Allah SWT. Dari sini kita bisa juga maknai. Bahwasanya ‘abdu ad-dirham dan ‘abdu ad-dinar, hamba dirham dan hamba dinar. Orang yang menuhankan dirham serta dinar. Dimana dirham dan dinar adalah perlambang dari materi atau duniawi. Ini seperti yang diisyaratkan Imam Shon’ani. Namun ia tidak sampai jatuh pada hukum syirik.

Ketika kita menghalalkan segala cara untuk mendapatkan materi. Ketika kita tidak menghiraukan status harta itu. Apakah ia syubhat, haram, atau halal. Yang penting kita mendapatkannya. Bukankah itu sudah termasuk dari penghambaan kepada materi? Menyerahkan diri, melakukan apapun demi materi.
Ketika kita berusaha meraih popularitas, dan berusaha mempertahankannya mati-matian. Bahkan tak jarang menempuh jalan mistik yang tidak seharusnya. Dan juga membahayakan diri sendiri dengan konskuensinya. Bahkan tak jarang demi popularitas rela merendahkan diri dengan mengobral aurat misalnya. Atau memperdagangkan diri secara langsung dan tidak langsung. Bukankah itu berati kita sudah menghambakan diri kita untuk pupolaritas, duniawi? Serta mengalahkan Allah SWT Dzat Yang Maha Agung dengan segala aturannya yang sempurna?

Penulis adalah sahabat Republika Online yang tengah menimba ilmu di Universitas Al Azhar, Kairo

_____________________________________________________

Anda ingin BERSEDEKAH pengetahuan dan kebaikan? Mari berbagi hikmah dengan pembaca Republika Online. Kirim naskah Anda melalui hikmah@rol.republika.co.id. Rubrik ini adalah forum dari dan untuk sidang pembaca sekalian, tidak disediakan imbalan.

Redaktur: Siwi Tri Puji B

Rabu, 09 Februari 2011

Istri Shalihah Penyejuk Hati

Istri Shalihah Penyejuk Hati

Dengan wajah lesu dan tatapan penuh kekecewaan, seorang suami mengadukan permasalahan yang sedang dia hadapi bersama istrinya kepada salah seorang sahabatnya yang mengerti agama.

“Saya hampir tidak pernah menikmati kecantikan istri saya yang sebenarnya dia miliki, “kata si suami mengawali pengaduannya. Istrinya hanya mau berdandan bila akan ke pesta atau sekedar jalan-jalan. Tetapi si istri tidak punya kebiasaan seperti itu bila tidak keluar, bahkan dianggapnya lucu karena bukan pada tempatnya untuk berdandan di rumah. Begitulah kira-kira isi keluhan si suami.

Sahabatnya menasehati. “Tunaikanlah hak istrimu yaitu didiklah ia dengan ajaran agama, agar mengetahui apa yang menjadi hak dan kewajibannya, bersabar dan banyaklah berdoa pada Allah. “Suami itu tersentak sadar bahwa meskipun perjalan rumah tangganya dengan sang istri telah membuahkan lima anak dia sama sekali belum menunaikan hak istri yang satu ini. Istri Shalihah Ingin selalu tampil cantik dihadapan lawan jenisnya sudah menjadi kesenangan tersendiri bagi umumnya wanita. Namun kenyataan yang ada sekarang sering istri berpikir terbalik. Didalam rumah dan dihadapan suaminya, istri merasa tidak begitu perlu untuk tampil dengan dandanan yang cantik dan memikat. Namun jika keluar rumah segalanya dipakai; baju yang bagus, aksesoris indah, make-up yang mencolok dan parfum yang semerbak turut melengkapi agar dapat tampil wah.

Lalu bagaimana cara menyelamatkan keadaan yang terbalik ini?
dengan penuh kemantapan dan tanpa ragu sedikitpun, jawabannya adalah kembali kepada ketentuan syari’ah islam dan tidak ada alternatif lain. Islam telah memberikan bimbingan, bagaimana menjadi istri yang shalihah, sebagaimana ciri-cirinya telah disebutkan dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam. Bahwa beliau bersabda:

“Apabila diperintah ia taat, apabila dipandang menyenangkan hati suaminya, dan apabila suaminya tidak ada dirumah, ia menjaga diri dan harta suaminya.” (HR.Ahmad dan An-Nasa’i, di Hasan-kan oleh Albani dalam Irwa’ no.1786)

Kalau kita lihat tuntunan islam diatas, ternyata bukanlah suatu yang sulit untuk dilaksanakan. Siapa pun bisa melakukannya. Disamping itu istri yang mempunyai tiga ciri diatas memiliki kedudukan yang tinggi dihadapan Allah, dan diibaratkan sebagai perhiasan dunia yang terbaik; sebagaimana yang dinyatakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam:

“Dunia adalah perhiasan (kesenangan) dan sebaik-baik perhiasan (kesenangan) dunia adalah wanita (istri) shalihah.” (HR.Muslim dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash) Diniatkan untuk Ibadah
Seorang istri yang baik akan berusaha untuk melaksanakan tugas-tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Walaupun terkadang timbul perasaan malas atau berat untuk melaksanakan sesuatu yang menjadi kewajibannya, tetapi hendaknya diingat bahwa keridhaan suami lebih diutamakan diatas perasaannya.

Lihatlah apa yang dikatakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam ketika Aisyah Radhiyallahu ‘anha bertanya:

“Siapa diantara manusia yang paling besar haknya atas (seorang) istri?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam menjawab, “Suaminya.. “ (HR. Hakim dan Al-Bazzar)

Dengan taat kepada suami dan tentunya dengan menjalankan kewajiban agama lainnya, dapat
mengantarkan istri kepada surga-Nya. Dalam hal ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam telah bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan di shahihkan oleh Al-Albani:
“Bila seorang wanita telah mengerjakan shalat lima waktu dan berpuasa pada bulan Ramadhan dan memelihara kemaluannya serta taat kepada suaminya, maka kelak dikatakan kepadanya: “masuklah dari pintu surga mana saja yang engkau inginkan.”
Kemudian hendaklah istri mengingat akan besarnya hak suami atas dirinya, sampai-sampai seandainya dibolehkan sujud kepada selain Allah maka istri diperintahkan untuk sujud kepada suaminya.

Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam:
“Andaikan saja dibolehkan seseorang bersujud kepada orang lain, niscaya aku perintahkan istri untuk sujud kepada suaminya.” (HR. Tirmidzi: Hasan Shahih)

Terlalu banyak peluang bagi seorang istri untuk beribadah kepada Allah dalam rumah tangganya dan terlalu mudah dalam memperoleh pahala dalam kehidupan suami istri. Namun sebaliknya terlalu mudah pula seorang istri terjerumus kepada dosa besar kalau melanggar ketentuan yang telah Allah gariskan.
Yang perlu diingat oleh istri ialah agar berupaya mengikhlaskan niat hanya untuk Allah dalam
melaksanakan kewajibannya sepanjang waktu.

Menyenangkan Hati Suami
Apabila diperintah oleh suaminya, istri diwajibkan untuk mentaati. Dan apabila suaminya tidak ada dirumah, istri harus pandai menjaga dirinya dan kehormatannya serta menjaga amanah harta suaminya.

Istri yang demikian ini akan dijaga oleh Allah sebagaimana Firman-Nya:
“ ..maka wanita yang shalihah ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena itu Allah telah memelihara (mereka).” (An-Nisa’: 34)
Adapun kriteria pertama dan ciri-ciri shalihah;
Imam As-Sindi mengatakan dalam bukunya Khasyiah Sunan Nasai juz 6 hal 377: “Menyenangkan bila dipandang itu artinya indahnya penampilan secara dzahir
serta akhlaq yang mulia. Juga terus menerus menyibukkan diri dalam taat dan bertaqwa kepada Allah.”

Banyak hal yang dapat menyenangkan hati suami, diantaranya: penampilan diri agar enak dipandang, dan berbicara dengan menggunakan tutur yang menyenangkan serta dalam hal pengaturan rumah mampu menciptakan suasana bersih dan nyaman.

a. Penampilan Diri
Umumnya suami lebih sering keluar rumah untuk menunaikan tugasnya apakah itu bekerja mencari nafkah ataukah berdakwah, sementara kita tahu keadaan di luar, sangat mudah sekali pandangan mata menjumpai wanita yang berpakaian minim dan menyebarkan aroma wewangian. Sekalipun seorang istri percaya suaminya akan berusaha memalingkan wajah dan menundukkan pandangannya karena takut dosa, namun laki-laki yang normal mungkin dapat tergoda melihat aurat yang haram tersebut. Diakui atau tidak, hal ini sangat mungkin terjadi.
Bagaimana seandainya istri merasa tidak perlu untuk tampil cantik dihadapan suami dengan alasan tidak adanya waktu karena telah tersibukkan dengan anak dan urusan rumah, apalagi bila tidak ada pembantu.
Sehingga dengan penampilan seenaknya dan terkadang (maaf) menyebarkan aroma yang kurang sedap ketika menyambut suaminya yang baru datang dari luar.
Berpakaian model apapun yang diingini dan disenangi suami dibolehkan dalam syariat islam dan tidak ada batasan aurat antara istri dan suaminya. Dandanan yang memikat dan aroma parfum yang harum akan menjaga dan memagari suami dari maksiat. Mata suami akan tertutup dari melihat pemandangan haram di luar rumah bila mata itu dipuaskan oleh istrinya dalam rumah. Jika istri tidak dapat memuaskan atau menyenangkan suami sehingga suaminya sampai jatuh dalam kemaksiatan (tertarik melihat pemandangan haram di luar rumah) maka berarti si istri turut berperan membantu suaminya bermaksiat kepada Allah.

b. Berbicara yang Enak
Pada saat suami istri duduk-duduk sambil berbincang tentang barbagai hal, hendaknya istri memlilih ucapan yang baik dengan tutur kata yang indah dan lembut serta sedapat mungkin menghindari pembicaraan yang tidak disukai oleh suami. Demikian pula ketika suami berbicara istri sebaiknya mendengarkan dengan penuh perhatian dan tidak memotong pembicaraan suami.

c. Pengaturan Rumah
Penting juga diperhatikan penataan rumah yang baik, bersih dari najis dan terhindar dari aroma yang kurang sedap. Walhasil, ciptakan suasana rumah yang menjadikan suami betah berada di dalamnya. Untuk membuat penampilan lebih menarik tidak harus dengan wajah yang cantik, demikian juga untuk membuat rumah bersih dan rapih tidak harus dengan harga yang mahal. Insya Allah semuanya bisa dilaksanakan dengan mudah selama ada keinginan dan diniatkan ikhlas untuk mencari ridha Allah. Bukankah segala sesuatu yang baik itu akan bernilai ibadah bila diniatkan hanya untuk Allah?

Disalin dari: http://alghuroba.org/istri2.php
Istri Shalihah Penyejuk Hati « samudera ilmu http://samuderailmu.wordpress.com/2008/03/11/istri-shalihah-penyejuk...
3 of 3 2/9/2011 2:54 PM

Jumat, 04 Februari 2011

Hati Yang Damai Dalam Beratnya Musibah

Kesedihan dan kepanikan sering kali melanda manusia ketika sedang dirundung suatu masalah kecil. Atau bisa jadi hal itu muncul lantaran suatu masalah yang cukup besar, yang kita sendiri tidak sanggup untuk menanggungnya sendirian.

Dari sinilah kita baru merasa efek dahsyatnya mendidik hati. Karena hati yang damai dapat menjadi sandaran bagi seluruh kebaikan dan kedamaian. Karena itulah perhatian pada kondisi hati haruslah mendapatkan porsi perhatian yang sangat dan lebih besar.

Namun sayang, di jaman modern ini, penggemblengan hati lebih dikalahkan oleh pembangunan kualitas otak. Dari situlah muncul banyak hal yang mengakibatkan orang mudah sekali orang stress, tertekan, dan panik. Manusia banyak yang berpikir hanya dengan logika, dan atau tentang sesuatu yang sangat riil. Dan ketika tiba saatnya Allah menganugrahkan cobaan kesulitan, diri mereka akan berkata bahwa hal itu sulit dan rumit. Hal ini akan tentu saja akan berbeda bila hati yang kemudian berbicara dan menterjemahkan situasi. Akan terasa sudut pandang yang berbeda tentunya, yang berbanding lurus dengan kedamaian.

Memanglah benar bahwa kekuatan dahsyat atas hati yang mengendalikan tubuh dan jiwa manusia. Hal ini serupa dengan sabda Nabi dalam hadits yang mengatakan bahwa hati adalah pusat pusaran untuk seluruh anggota tubuh.

Hati yang Damai membuat seluruh bagian tubuh dan jiwa kita pun larut dalam kedamaian. Sebaliknya, cerminan hati yang rusak dan kotor tidak mungkin akan bisa disembunyikan oleh lisan dan seluruh gerak tubuh.

Hati yang damai adalah jalan vital untuk memperbaiki kehidupan. Apapun akan terasa ringan saat hati menyampaikan dengan penuh kedamaian.

…Kedamaian hati benar- benar dapat menjadi sandaran bagi seluruh kebaikan. Hati yang damai
adalah jalan vital untuk memperbaiki kehidupan. Dan muara dari seluruh kedamaian adalah
keintiman hubungan kita dengan Allah yang maha memberikan kedamaian…

Tersebutlah Thalhah bin Ubaidillah yang terluka di kepalanya saat terjadi perang Uhud. Karena luka yang parah sampai- sampai diapun tidak sadarkan diri. Bahkan darah pun mengucur darah dari kepalanya. Abu Bakarpun sempat menolongnya, Beliau lalu memercikkan air di muka Thalhah. Hingga Thalhah tersadarkan diri.

Kalimat pertama yang diucapkannya saat dia tersadar adalah “Apa yang dilakukan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam?”. Abu Bakar menjawab: Beliau baik, beliau mengutusku untuk menemuimu.

Thalhah berkata: Alhamdulillah, semua musibah setelahnya (yaitu: setelah tahu bahwa Rasul dalam keadaan baik) terasa kecil. Subhanallah.. bahkan tubuh yang terluka parahpun tak terasa olehnya. Sangat remeh dan nyaris tak terpikirkan, karena hatinya terpaut dengan suatu kecintaan yang lebih besar, yaitu keselamatan Rasulullah. Semua kesakitan terbayar sudah dengan kabar berita baiknya beliau dan semua musibahnya adalah terasa sangat kecil.

Benar benar kedamaian hati dapat menjadi sandaran bagi seluruh kebaikan dan keberuntungan. Sebuah kehidupan yang tidak dibangun di atas kedamaian hati, adalah ibarat mmembangun sebuah istana pasir yang menunggu air laut naik.dan muara dari seluruh kedamaian adalah keintiman hubungan kita dengan Allah yang maha memberikan kedamaian.

[syahidah]

Selasa, 28 Desember 2010

Lebih Baik Mana Dengan Anjing..??!!

SEDEKAH KATA #1

25 Desember 2010

LEBIH BAIKKAH KITA DARI SE EKOR ANJING..??!!

Anjing adalah binatang yang diharamkan untuk di konsumsi bagi Umat Islam, ia pula dipandang kurang baik oleh Islam, tetapi Allah SWT tentu Maha Berkehendak dan Maha Mengetahui.

Segala sesuatu ciptaannya tentu membawa hikmah dan manfaat bagi ciptaannya itu sendiri.

Salah satu hikmah yang dapat kita pelajari/ renungkan adalah perilaku anjing yang tentu dapat kita lihat sehari-hari.

Seekor anjing akan mencari makan jika ia telah lapar, dan berhenti jika ia sudah merasa cukup.

Tetapi kita manusia, acap kali mencari makan/ rizqi secara berlebihan, berlebih dari apa yang kita butuhkan, senang untuk menimbun rizqi itu walau terkadang/ sering rizqi yang kita timbun itu diperoleh dengan berbagai cara, sekalipun musti berbuat kezaliman dengan mengambil hak orang lain.

Hikmah lain dari seekor anjing adalah jika ia diberi makan oleh tuannya, maka ia akan patuh terhadap segala perintah tuannya.

Tetapi kita manusia, acap kali lalai/ malas/ tidak mau untuk menjalankan segala perintah Allah SWT, padahal sudah begitu banyak bahkan tak ternilai yang sudah diberikan Allah SWT kepada kita.

Berbagai rizqi dan nikmat semua datang dari Allah SWT. Baik itu materil maupun non materil. Baik itu yang kasat mata maupun yang tidak kasat mata. Baik itu yang kita sadari maupun yang kita belum mampu menyadarinya.

Bayangkan jika kita ditawarkan dunia ini dengan segala isinya ditukar dengan nikmat iman Islam kita, ku yakin tentu kita akan lebih memilih nikmat iman Islam kita tetap bertahan dalam diri kita, karena nikmat iman Islam itulah Insya Allah kita mendapat ridho-Nya Allah SWT Sang Pencipta dan Pemilik Jagat Raya ini.

Subhannallah... Maha Besar Allah SWT, baru satu nikmat saja yang kita dapatkan dari Nya sudah memiliki nilai yang begitu amat besarnya. Sedangkan nikmat yang telah Allah berikan kepada kita selama ini sudah tak terhitung banyaknya, karena-Nya lah kita patut bersyukur dengan banyak berbuat kebaikan serta menjalankan segala perintah-Nya.

Sebab semua kebaikan dan perintah kewajiban yang kita lakukan itu pada akhirnya akan membawa manfaat bagi diri kita sendiri.

Allah SWT tak akan berkurang KeMuliaan-Nya, KeBesaran-Nya dan Ke Maha Perkasaan-Nya jika kita seluruh dunia ini mengingkari-Nya sekalipun.

Sebab Allah SWT memang telah bersifat Maha Suci, Maha Berkehendak dan Maha Kuasa atas segala sesuatunya.

Allah SWT tak butuh akan kita ciptaannya, tetapi kita lah yang butuh akan Allah SWT sebagai Pencipta kita yang Maha Pemurah dan Maha Bijaksana.


Segala kekurangan dan kesalahan dari tulisan ini datangnya dari kekhilafan dan ketidakpandaian saya yang lemah dan masih belajar ini, hingga kiranya sudi pembaca memberi koreksi dan memaafkan kekhilafan tersebut.

Segala yang benar dan baik dari tulisan ini semata datangnya dari Allah SWT yang Maha Benar dan Maha Berkehendak atas seluruh ciptaannya, termasuk diri ini. Hingga ku berharap dapat bermanfaat bagi saudara-saudara ku yang seiman.